Entri Populer

Rabu, 24 November 2010

Pikiran & Praktis PAK Yohannes Calvin

Riwayat Hidup Yohannes Calvin
John Calvin atau Yohannes Calvin (lahir 10 Juli 1509 – meninggal 27 Mei 1564, pada umur 54 tahun) adalah teolog Kristen Prancis terkemuka pada masa Reformasi Protestan. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme. Ia dilahirkan dengan nama Jean Chauvin di Noyon, Picardie, Prancis. Ayahnya bernama Gérard Cauvin dan ibunya, Jeanne Lefranc.
Pada mulanya, ayah Calvin menginginkan anaknya untuk menjadi imam. Pada umur 12 tahun Calvin sudah menerima "tonsur" (pencukuran rambut dalam upacara inisiasi biarawan) dan ia sudah menerima upah dari paroki St. Martin de Marteville. Dengan penghasilan tersebut, Calvin dapat meneruskan pendidikannya pada jenjang yang tinggi. Pada tahun 1523 Calvin memasuki College de la Marche di Park. Di sini ia belajar retorika dan Bahasa Latin. Bahasa Latin dipelajarinya pada seorang ahli bahasa Latin yang terkenal, yaitu Marthurin Cordier. Kemudian ia pindah ke College de Montague. Di sini Calvin belajar filsafat dan theologia. Di sekolah inilah Calvin belajar bersama dengan Ignatius Loyola, yang dikemudian hari menjadi musuh besar gerakan Reformasi.
Setelah Calvin menyelesaikan pendidikannya itu, tiba-tiba ayahnya tidak menginginkan anaknya lagi untuk menjadi imam. Ayahnya menginginkan Calvin menjadi seorang ahli hukum. Oleh karena itu Calvin memasuki Universitas Orleans untuk belajar ilmu hukum. Kemudian ia belajar juga di Universitas Bourges dan Paris. Bahasa Yunani dan Ibrani dipelajarinya dari Melchior Wolmar, seorang ahli bahasa terkenal pada abad itu. Dengan demikian Calvin menjadi seorang ahli hukum. Studi hukumnya sangat mempengaruhinya dalam usaha pembaharuan dan penataan gereja reformasi yang dipimpinnya. Calvin sangat menekankan ketertiban dan keteraturan dalam gereja.
Pada tahun 1534, golongan Reformatoris di Perancis dihambat dengan keras. Akibatnya, tokoh-tokoh Reformator menyelamatkan dirinya dengan melarikan diri ke Swiss. Calvin pun ikut melarikan diri ke Strausburg, di mana ia diterima dengan hangat oleh Bucer. Kemudian Calvin meneruskan perjalanannya ke Basel dan tinggal di sana setahun lebih lamanya. Selama itu, Calvin masih pergi ke Perancis mengunjungi sahabat-sahabatnya dengan memakai nama-nama samaran seperti: Martianus Lucanius, Carolus Passelius, Calpunius, dan sebagainya. Di Basel inilah, Calvin menerbitkan bukunya yang terkenal itu, yaitu: Institutio, menurut judul Latinnya, Christianae Religionis Institutio (dialihbahasakan menjadi Pengajaran Agama Kristen), pada tahun 1536. Institutio kemudian menjadi kitab dogmatik Reformasi yang paling masyhur di seluruh dunia. Kata pendahuluan Institutio diperuntukkan kepada Raja Perancis, Frans I untuk menjelaskan kepadanya akan keikhlasan dan kejujuran Pembaharuan Gereja .
Kemudian Calvin dipanggil kembali oleh jemaat Strausburg dan ia menjadi pendeta di sana (1539-1541). Di sini Calvin mengusahakan nyanyian Mazmur dengan bantuan ahli musik terkenal; yaitu Clement Marot, Louis Bourgois dan Maitre Piere. Di sini pula Calvin mulai menulis tafsiran-tafsiran Alkitab serta merevisi Institutio. Di sinilah pula Calvin menikah dengan Idelette de Bure, seorang janda bangsawan. Pernikahannya hanya berlangsung sembilan tahun lamanya, karena kemudian istrinya meninggal tanpa memberi keturunan kepada Calvin.












BAB II
PIKIRAN dan PRAKTIS PAK YOHANES CALVIN

Karya Pengajaran Calvin
Pikiran dan praktis PAK Yohanes Calvin tertuang dalam buku yang ditulisnya Institutio. Ada 5 dasar pokok teologi Calvin yang perlu di ketahui dalam bukunya ini.

1. Kedaulatan Allah dan predistinasi
Pertama-tama, Allah yang wajib dilayani itu berdaulat atas diriNya dan semua pembicaraan manusia tentang Allah harus bertitik tolak dari sudut bagaimana Allah sendiri ingin diketahui. Dalam kedaulatanNya, Dia menyatakan diriNya sebagai tiga pribadi, Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Allah yang dinyatakan dalam Alkitab dipahami dan diyakini sebagai Allah yang berdaulat atas dunia, sebab Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang ada. Maksudnya ialah supaya kita lebih terdorong untuk mempercayakan diri kepadaNya, memanggil namaNya, memuja dan mencintaiNya. Setiap kali kita menamakan Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, hendaklah terpikir pula oleh kita bahwa di tanganNya terletak kekuasaan untuk memakai kehendakNya atas segala sesuatu yang dijadikanNya.
Dalam hal ini, titik sentral pengajaran Calvin hampir serupa dengan titik sentral pengajaran Luther, yakni : pembenaran orang berdosa oleh karena Yesus Kristus, hanyalah oleh iman saja. Namun, pengajaran Calvin lebih mendekati pengajaran Zwingli dalam mengutamakan predistinasi, yaitu keyakinan bahwa hal kita percaya atau tidak percaya itu semata-mata akibat dari takdir Allah yang kekal . Calvin tidak hanya memperhatikan dan memikirkannya secara filsafat, melainkan berdasarkan Alkitab saja. Maka dari itu, tidak benarlah anggapan umum bahwa predistinasi adalah “ajaran pokok” dari sistem pengajaran Calvin karena bukanlah suatu dogma yang abstrak yang hanya menjadi pusat pikiran Calvin, melainkan Yesus Kristus sendiri yang berbicara kepada kita dengan FirmanNya. Dalam Institutio, pokok predistinasi diuraikan oleh Calvin selaku tambahan saja kepada uraiannya tentang penerimaan keselamatan oleh manusia.
Predestinasi adalah salah satu bagian ajaran kedaulatan Allah. Ada empat tinjauan yang perlu kita ketahui menurut Calvin, yaitu :
a) predestinasi itu berasal dari Allah yang dikenal dalam Kristus sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sebagaimana dicatat dalam Efesus 1:4, dimana orang-orang percaya sudah dipilih dalam Kristus sebelum dunia dijadikan.
b) dengan ajaran predestinasi itu, keselamatan kita bersandar total pada Allah dan bukan pada usaha atau prestasi seorang yang percaya.
c) pemilihan itu sendiri tidak dibuat demi orang-orang sebagai hak istimewa mereka, malahan demi maksud pelayanan.
d) ajaran Calvin tentang predestinasi itu bertumbuh dari pengalamannya sebagai pendeta. Sungguhpun kabar baik diberitakan kepada banyak orang, namun dari jumlahnya itu hanya sebagian yang menerimanya sebagai kabar baik.
Meninjau kembali ajaran predestinasi secara menyeluruh, maksudnya supaya menenangkan orang percaya. Mereka tidak perlu gelisah setiap hari dengan menanyakan diri apakah mereka diselamatkan atau tidak. Karena masalah itu sudah dipecahkan oleh anugerah Allah, maka semua usaha mereka dapat diarahkan pada tugas pokok orang percaya, yaitu membangun masyarakat manusia yang sesuai dengan kehendak Allah.

2. Alkitab sebagai Fiman Allah
Apabila kedaulatan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi faktor utama dalam pikiran dan pengalaman Calvin, maka sumber pengetahuan tersebut didapati dalam Alkitab sebagai Firman yang tertulis. Sebagai contoh : setiap pengajaran diawali dengan doa berikut, ”Kiranya Tuhan membiarkan kami mempelajari misteri-misteri hikmat sorgawi agar maju dalam agama demi kemuliaan Tuhan dan pembinaan kami” dan diakhiri dengan doa yang lebih panjang yang memohon agar isi yang dibahas tadi dapat diwujudkan dalam kehidupan mereka.


3. Ajaran tentang Manusia
Dalam ajaran inilah Calvin mengungkapkan dosa warisan atau dosa turunan, yang berarti suatu kerusakan dan kebejatan kodrat manusia secara turun-temurun, yang sudah tersebar ke semua bagian jiwa dan membuat manusia layak ditimpa kemurkaan Allah . Kemudian menghasilkan perbuatan-perbuatan daging dalam diri kita, yang merupakan buah kefasikan, namun telah mengandung benih di dalam dirinya. Dengan kata lain, seluruh kodrat manusia adalah benih dosa, hal tersebutlah yang menimbulkan rasa benci dan jijik di hati Tuhan.
Untuk menyakinkan manusia akan keadaannya, Allah menyediakan Hukum TauratNya yang triguna. Pertama-tama, hukum itu berfungsi bagaikan cermin. Kedua, hukum itu dipandang sebagai ancaman terhadap semua macam tindakan yang bersalah. Ketiga, karena telah dituliskan oleh jari Allah pada hati orang-orang percaya, maka Roh Allah yang berkuasa sehingga seluruh manusia harus menaati Dia.

4. Ajaran Gereja
Menurut Calvin, Allah menghendaki orang-orang percaya mencapai kedewasaannya melalui pendidikan dari gereja. Karena dengan sarana kaum pendidik, Allah mengulurkan tanganNya untuk menarik orang-orang percaya kepada Dia. Melalui mulut dan lidah manusia yang dikuduskan oleh Roh Kudus, yaitu para pendidik gereja; warga dapat mendengar firman Allah sama seperti Dia sendiri hadir di dalam kehidupan manusia itu sendiri .
Di samping dididik langsung melalui bimbingan seorang guru dalam kelompok orang-orang percaya, pertumbuhan rohani dialami pula melalui kebaktian yang terdiri dari keikutsertaan semua warga di dalamnya; misalnya dalam bagian berdoa, menyanyikan mazmur-mazmur, pengakuan dosa dan penerimaan pengampunan, membuka dirinya kepada Firman yang diberitakan pengkhotbah dan secara khusus menerima Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus.

5. Ajaran tentang Hubungan antara Gereja dan Negara
Hubungan gereja dan Negara menurut Calvin sangat erat . Calvin mencita-citakan suatu Negara Theokrasi, dimana seluruh kehidupan masyarakat harus diatur sesuai dengan kehendak Allah. Pemerintah bertugas juga untuk mendukung gereja dan menghilangkan segala sesuatu yang berlawanan dengan berita Injil yang murni. Namun ini tidak berarti bahwa Negara dibawah gereja. Gereja dan Negara harus hidup saling melengkapi dan berdampingan. Keduanya bertugas untuk melaksanakan kehendak Allah serta mempertahankan kehormatan Allah.

Pandangan Calvin tentang PAK
Calvin mengutamakan kepentingan belajar sebagai tugas seorang yang percaya secara berkesinambungan, yang disebut dengan “orang-orang yang terpelajar”, yang juga mendapat pendidikan dan pengajaran. Sebagai contoh, Calvin menyebutkan pengalaman Musa dan Daud yang menerima pengajaran dari Allah. Sebelum Musa menerima Hukum Taurat, selama 40 tahun lamanya, dia terbuka pada bimbingan dari tangan Tuhan (Bilangan 27 :6). Begitu juga dengan Daud yang selalu memperoleh hikmat pengajaran yang berasal dari Allah sendiri (Mazmur 86 : 11) . Oleh karena itu, Calvin memberi kesimpulan bahwa Pendidikan Agama Kristen adalah proses pemupukan akal orang-orang percaya dengan Firman Allah di bawah bimbingan Roh Kudus melalui sejumlah pengalaman belajar yang dilaksanakan gereja sehingga di dalam diri mereka dihasilkan pertumbuhan rohani yang berkesinambungan yang diaplikasikan semakin mendalam melalui pengabdian diri kepada Yesus Kristus, berupa tindakan-tindakan kasih terhadap sesamanya .
Mengingat kesimpulan yang ditarik Calvin dari Alkitab tentang pemilihan orang percaya dalam Yesus Kristus, secara logis agak mengherankan menemukan peranan menonjol bagi pendidikan dalam pikiran dan praktek Calvin. Sehingga muncul pertanyaan; kalau orang-orang tertentu sudah dipilih Allah, mengapakah ada keperluan untuk mendidik orang ? Secara singkat, orang-orang percaya perlu dididik agar keselamatan dapat di wujudkan dalam kehidupan mereka demi kemuliaan nama Allah . Terlepas dari pendidikan dalam Firman Allah, orang-orang terpilih itu belum sadar akan tanggung jawab mereka. Memang keselamatan itu sendiri tidak di ragukan, namun keuntungan dan kemungkinannya belum nampak sebelum kaum percaya itu dididik.
Adapun tujuan Pendidikan Agama Kristen menurut Calvin adalah mendidik semua warga gereja agar mereka dilibatkan dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dibimbing oleh Roh Kudus, diajar mengambil bagian dalam kebaktian serta diperlengkapi untuk memilih cara-cara mewujudkan suatu pengabdian diri kepada Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan mereka sehari- hari, serta hidup bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah, demi kemuliaan namaNya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.
Untuk melaksanakan PAK ini sangat dibutuhkan kurikulum atau katekismus. Untuk menyusunnya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : pertama-tama, tugas menyusun ketekismus yang merupakan bahan pengajaran bagi anak didik disusun sedemikian bermakna sehingga tidak boleh diserahkan kepada sembarang orang. Kedua, bahan studi bagi anak didik perlu disesuaikan dengan kemampuan anak didik tanpa menghilangkan mutu teologisnya. Ketiga, pendekatan mengajar sama pentingnya dengan menyusun katekismus. Keempat, buku katekismus itu hendaknya memupuk hubungan oikumenis diantra gereja-gereja yang terpisah. Ada empat tema pokok katekismus Calvin, yaitu Iman, Hukum, Doa dan Sakramen.
Calvin juga menyusun suatu tata gereja baru yang bernama Ordannances Ecclesiastiques (Undang-undang Gerejani), dimana Calvin membagi dan menetapkan empat kategori dalam pelayanan gereja berdasarkan peranan dan kekuasaan yang berbeda-beda, yaitu :
• Pendeta (gembala) yang bertugas berkhotbah, memberikan Sakramen, menjalankan disiplin gereja, mengajar dan memperingatkan umat.
• Doktor (guru atau pengajar) memegang jabatan dalam ilmu teologi dan pengajaran utnuk membangun umat serta melatih orang-orang dalam jabatan-jabatan lain di gereja.
• Diaken mengawasi pekerjaan amal, termasuk pelayanan di rumah sakit dan program-program untuk mengatasi kemiskinan.
• Penatua, yaitu 12 orang awam yang tugasnya adalah melayani dengan mengeluarkan surat-surat peringatan, serta bila perlu menyerahkan para pelanggar ke Konsistori, yang merupakan sebuah peradilan gerejawi yang terdiri atas sejumlah penatua dan pendeta, yang diberikan kuasa untuk mempertahankan ketertiban di dalam gereja dan diantara para anggotanya.
Bagi Calvin, peranan Allah sebagai pengajar yang paling utama, sebab Allahlah yang memprakarsai seluruh pengalaman belajar dan mengajar. Sebagai Allah yang berdaulat, Dialah yang menentukan apakah perkataan seorang pengajar mengenai sasarannya atau tidak. Oleh karena itu, janganlah seorang pengajar di kalangan gereja melampaui mandatnya menjadi juru bicara Allah .














BAB III
KESIMPULAN

Yohannes Calvin merupakan salah satu tokoh besar gerakan Reformasi Gereja, selain Marthin Luther dan Ulrich Zwingli. Yohannes Calvin mendasarkan pendidikan gerejawi atas dasar pikiran teologinya dan kemudian mengembangkan pelayanan pedagogis yang selaras dengan teologi yang ia jelaskan dalam bukunya “Institutio”. Kemudian, melalui Institutionya; Calvin menjelaskan isi iman Kristen secara teratur dan sistematis melalui pengajaran kepada warga jemaat, dimana mereka dididik tidak hanya memperhatikan keadaan jiwanya secara pribadi saja tetapi agar memandang keluar. Dalam artian memanfaatkan iman untuk mengubah masyarakat (jemaat) sesuai dengan Injil.
Calvin memberi penjelasan mengenai PAK yang merupakan bagian integral dari pelayanan Gereja, oleh karena Gereja sebagai Sang Ibu yang mengasuh anak-anaknya (warga jemaat). Dalam proses pengajaran PAK di gereja, Calvin memiliki jabatan rangkap, yaitu sebagai pendeta (gembala) dan juga sebagai guru. Sebagai pendeta, Calvin menjunjung tinggi khotbah sebagai sarana untuk mendidik para warga jemaat untuk memuji Tuhan melalui penggunaan Mazmur-mazmur yang dinyanyikan jemaat dalam bahasa daerah. Sebagai guru, Calvin mendidik warga jemaatnya melalui kuliah umum untuk mendorong warga jemaatnya agar melibatkan diri secara langsung dalam pelayanan pedagogis.
Calvin juga menetapkan Sakramen Baptisan sebagai tanda pemilihan Allah di dalam Yesus Kristus dan juga Sakramen Perjamuan Kudus sebagai karunia yang mutlak dari Allah bagi keselamatan seluruh umat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar